Logo Datakita.co

Gejala Stres Bisa Dikenali dari Kotoran Telinga

Fadli
Fadli

Senin, 09 November 2020 08:13

ilustrasi: int
ilustrasi: int

JAKARTA, DATAKITA.CO – Penelitian di London mengungkapkan bahwa tingkat stres seseorang bisa dianalisis melalui kotoran telinga seseorang.

Penelitian tersebut dituangkan dalam sebuah studi jurnal Heliyon. Studi percontohan melibatkan 37 orang partisipan itu.

Para peneliti yakni Andrés Herane-Vives dan koleganya di University College London’s Institute of Cognitive Neuroscience and Institute of Psychiatry menemukan bahwa kortisol lebih terkonsentrasi di kotoran telinga daripada di rambut, sehingga lebih mudah untuk dianalisis.

Kortisol adalah hormon penting yang melonjak saat seseorang stres dan menurun saat mereka rileks. Hormon itu sering kali meningkat secara konsisten pada orang dengan depresi dan kecemasan.

Menurut peneliti, seperti dilansir dari Livescience, kotoran telinga stabil dan tahan terhadap kontaminasi bakteri, sehingga dapat dikirim ke laboratorium dengan mudah untuk dianalisis. Selain itu, kotoran telinga juga dapat menyimpan catatan tingkat kortisol selama berminggu-minggu.

Di sisi lain, teknik usap atau swab yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan kotoran telinga menurut para partisipan jauh lebih nyaman dari metode lain.

Sebenarnya, selain kotoran telinga, metode pemeriksaan kortisol bisa juga melalui air liur, darah dan rambut.

Namun, sampel air liur dan darah hanya menangkap sesaat, dan kortisol berfluktuasi secara signifikan sepanjang hari.

Bahkan pengalaman berhadapan dengan jarum suntik untuk mengambil darah dapat meningkatkan stres, dan dengan demikian meningkatkan kadar kortisol.

Sementara jika menggunakan sampel rambut, memang dapat memberikan gambaran singkat tentang kortisol selama beberapa bulan tetapi analisis rambut tergolong mahal.

Pemeriksaan melalui kotoran telinga sendiri sebelumnya juga menyakitkan karena melibatkan jarum suntik. Untuk itulah, Herane-Vives dan rekan-rekannya mengembangkan swab yang, jika digunakan, tidak akan lebih membuat stres.

“Setelah studi percontohan yang berhasil ini, jika perangkat kami dapat diteliti lebih lanjut dalam uji coba yang lebih besar, kami berharap dapat mengubah diagnosis dan perawatan bagi jutaan orang dengan depresi atau kondisi terkait kortisol seperti penyakit Addison dan sindrom Cushing, dan kemungkinan banyak kondisi lainnya,” kata peneliti dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Bisnis.

Ke depannya, mereka berharap kotoran telinga juga bisa digunakan untuk memantau hormon lain.

Para peneliti juga perlu menindaklanjuti penelitian terhadap orang-orang Asia, yang tidak disertakan dalam studi percontohan ini karena sebagian mereka menghasilkan kotoran telinga yang kering, bukan kotoran telinga yang basah dan berlilin. (*)

 Komentar

 Terbaru

MAKASSAR21 April 2026 23:00
PD Terminal Makassar Hadirkan Wajah Baru Terminal: Lebih Estetika, Tertib, dan Produktif
MAKASSAR, DATAKITA.CO – Pemerintah Kota Makassar terus bergerak membenahi wajah transportasi publik demi menghadirkan terminal yang tidak lagi ident...
DAERAH21 April 2026 21:38
Gubernur Kirim Bantuan untuk Korban Kebakaran di Parepare
PAREPARE, DATAKITA.CO – Peristiwa kebakaran yang terjadi di Jalan Matalie, dekat Permandian Lumpue, Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, ...
DAERAH21 April 2026 16:23
Wabup Gowa: Transformasi Digital Kebutuhan yang Tidak Dapat Ditunda
GOWA, DATAKITA.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi digital pemerintahan melalui Sosial...
MAKASSAR21 April 2026 15:55
Kloter 1 Asal Soppeng Tiba di Embarkasi Makassar, Diberangkatkan ke Tanah Suci Rabu Dini Hari
MAKASSAR, DATAKITA.CO – Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, Ikbal Ismail, menerima kedatangan jemaah haji kloter pertama asal...