MAMUJU, DATAKITA.CO – Ancaman kemarau panjang yang dipicu fenomena iklim global mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menyiapkan langkah mitigasi yang lebih terukur.

Berbeda dari pendekatan konvensional, Dinas PUPR Sulbar kini memprioritaskan optimalisasi jaringan irigasi melalui galian sedimen guna meningkatkan debit air pada saluran eksisting.
Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Sulbar Suhardi Duka, yang menekankan penguatan infrastruktur dasar untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan iklim.
Baca Juga :
Kepala Dinas PUPR Sulbar, Surya Yuliawan Sarifuddin menegaskan, kemarau panjang merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, namun dampaknya masih dapat dikendalikan melalui mitigasi terpadu berbasis data lapangan.
“Kami fokus pada langkah yang langsung berdampak, yakni pengangkatan sedimen pada saluran dan titik-titik krusial agar kapasitas aliran air kembali optimal,” kata Surya Yuliawan, Sabtu 18 April 2026.
Secara teknis, intervensi dilakukan pada sejumlah lokasi strategis seperti Lakejo, serta berpotensi diperluas ke wilayah Bantalaka dan Tandung. Endapan sedimen yang selama ini menghambat aliran dinilai menjadi faktor utama penurunan debit air, sehingga pengerukan menjadi solusi paling cepat dan efektif dibanding pembangunan tampungan baru.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bentuk evaluasi terhadap pola pengelolaan irigasi.
PUPR menilai, optimalisasi sistem yang sudah ada jauh lebih adaptif dalam situasi darurat dibandingkan pembangunan infrastruktur baru yang membutuhkan waktu dan biaya besar.
Dalam konteks nasional, langkah ini selaras dengan upaya pemerintah daerah di berbagai wilayah yang mulai menggeser strategi dari pembangunan fisik baru ke peningkatan fungsi jaringan eksisting sebagai respons atas ancaman El Nino dan krisis air.
“Ini bukan sekadar pekerjaan teknis, tetapi strategi menjaga stabilitas produksi pertanian. Dengan debit air yang kembali optimal, produktivitas lahan dapat dipertahankan meski di tengah tekanan musim kering,” tambahnya.
Melalui mitigasi terpadu ini, PUPR Sulbar menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi cepat, adaptif, dan berbasis kondisi riil lapangan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu.








Komentar