Logo Datakita.co

Sejuta Cinta untuk Ayah dari BPKK DPW PKS Sulsel pada Lelaki Penjual Tala

Fadli
Fadli

Rabu, 17 November 2021 22:03

Sejuta Cinta untuk Ayah dari BPKK DPW PKS Sulsel pada Lelaki Penjual Tala

Oleh Yeni Rahman, S.Si.

HANYA bermodalkan KTP dan foto, Srikandi Elang (Emak-Emak Petualang) nekat berpetualang ke Jeneponto untuk bertemu dengan sosok ayah yang menjadi target Sejuta Cinta untuk Ayah pilihan tim BPKK DPW PKS Sulsel.

Program yang diselenggarakan dalam rangka Hari Ayah Nasional kali ini, sepakat untuk memilih Ayah Inspirasi dari penjual buah tala (lontar) yang biasa menjajakan dagangannya di Makassar.

Penjual buah tala menjadi pilihan dengan pertimbangan bahwa pedagang keliling ini punya sejuta inspirasi bagi ayah lain untuk mencari rezeki halal, meski harus berpeluh memikul buah dari pohon lontar tersebut.

Beratnya mungkin tak seberapa, tapi jarak yang ditempuh selama menjajakan dagangannya hanya bisa dijalani oleh orang yang memang pekerja keras. Apalagi, meskipun buah tala adalah buah yang langka dijual di Makassar, tapi tidak membuat dagangan ini laris manis. Itu karena penggemar buah ini memang sangat jarang. Para milenial bahkan mungkin tak pernah melirik buah yang dari pohonnya ini bisa dijadikan tuak.

Berawal dari inspirasi inilah, tim BPKK DPW Sulsel mengambil langkah pertama sebelum ke Jeneponto, dengan mencari tahu dari pedagang yang sering keliling di Makassar.

Ira, salah seorang pengurus DPC PKS Tamalate memberi pengakuan bahwa beberapa pedagang tala keliling biasa mampir makan dan beristirahat di warung tempatnya bekerja.

Pak Caceng adalah penjual buah tala keliling yang pertama terjaring datanya oleh Ira. Seperti halnya penjual buah tala yang lain, Pak Caceng berasal dari Jeneponto, yang berjarak lebih kurang 90 Km dari Makassar. Butuh tiga jam perjalanan mobil untuk menuju ke sana.

Sayangnya, Ira hanya mengabadikan sosok Pak Caceng dengan video tanpa sempat meminta KTP dan alamatnya di Jeneponto. Sulitnya lagi, Pak Caceng ternyata tidak memiliki HP. Tim BPKK DPW Sulsel kehilangan jejak dan harus menjajaki pedagang yang lain.

Berselang sepekan, Ira bertemu lagi dengan penjual tala lain yang bernama Pak Murisi. Kali ini, target Ayah Inspirasi langsung difoto, begitu juga dengan KTP-nya.

Seperti halnya Pak Caceng, Pak Murisi pun ternyata tidak memiliki HP. Namun, dari wajah dan KTP, tim BPKK DPW Sulsel, yakin akan bisa menemukan rumah Pak Murisi di Jeneponto.

Sepertinya, rezeki memang sedang berpihak ke Pak Murisi. Ketika Ira kembali mengirimkan foto dan biodata dari penjual tala lain, tim BPKK DPW Sulsel sudah menetapkan hati untuk menemui Pak Murisi.

Desa Turatea, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto. Koordinat inilah yang akan kami kunjungi demi bertemu dan melihat langsung kehidupan sehari-hari Pak Murisi.

Awalnya kami berharap Pak Murisi kembali bertemu dengan Ira, agar kami bisa berangkat bareng ke rumahnya. Namun hingga menjelang keberangkatan, Pak Murisi tak pernah muncul. Tak ada jala lain kecuali harus berangkat dan mencari alamat setelah tiba di Jeneponto.

Ada sedikit harapan bahwa kami akan dimudahkan dalam perjalanan ini karena sebelumnya kami sudah menghubungi Ketua DPD PKS Jeneponto untuk mencari tahu sosok Pak Murisi. Minimal alamat rumahnya. Namun, karena kesibukan beliau, hingga kami tiba di Jeneponto, kami hanya dibekali nomor HP Kepala Desa Turatea.

Setelah mengharap titik maps dari kepala desa tapi tidak juga menerima jawaban, kami berinisiatif untuk mencari sendiri di maps.

Sayangnya, maps yang kami jadikan petunjuk jalan ternyata salah titik. Saya yang harusnya mengetik Desa Turatea, ternyata salah memasukkan kata kunci di maps, dengan memasukkan kata kunci Kecamatan Turatea. Tentu saja dua alamat yang berbeda, dan inilah yang membuat perjalanan kami penuh liku. Butuh berkali-kali bertanya di setiap orang yang kami temui, baru kemudian bisa bertemu dengan rumah Kepala Desa Turatea.

Jangan ditanya bagaimana lelahnya mencari alamat di desa yang sama sekali belum pernah kami kunjungi. Namun, setiap membayangkan senyum Pak Murisi saat kami kunjungi, lelah itu lenyap.

Semakin jauh kami menelusuri jalan-jalan kampung, semakin kuat harapan untuk bertemu. Meski nyasar berkali-kali, kami tetap melanjutkan perjalanan dan menguatkan azzam, tak kunjung pulang sebelum bertemu Ayah Inspirasi versi BPKK.

Menjelang Maghrib, akhirnya kami menemukan setitik harapan. Kami tiba di rumah Kepala Desa Turatea, Pak Fandi namanya.

Namun setitik harapan itu kembali redup ketika dari Pak Kades kami mendapat informasi bahwa Pak Murisi sedang di desa lain untuk menghadiri acara keluarga.

Kecewa itu ada, dan obat kecewa kami satu-satunya adalah memindahkan target.

Kami segera memperlihatkan foto-foto penjual tala yang lain, yang didapat dari Ira.

Harapan itu tumbuh kembali ketika Pak Kades ternyata mengenal semua foto yang kami perlihatkan. Dari beliau, kami mendapat gambara kehidupan mereka, dan ternyata Pak Kades memilih Pak Najamuddin, yang lebih dikenal dengan sapaaan Daeng Bella.

“Kondisi keluarga Daeng Bella lebih memprihatinkan,” ungkap Pak Fandi menjatuhkan pilihan. Kami pun mengamini dengan anggukan.

Ini memang rezeki Daeng Bella. Pikirku. Meski kami berangkat untuk mencari Pak Mursidi, bahkan ketika Ira mengirimkan nama dan foto Daeng Bella sebelum kami meninggalkan Makassar, kami tetap kukuh untuk menjadikan Pak Mursidi sebagai Ayah Inspiratif. Namun, rezeki selalu punya cara untuk menemui tuannya.

Di rumah Daeng Bella, kami diarahkan ke rumah anak keduanya, yang berlokasi tepat di belakang rumah Daeng Bella. Daeng Bella masih perjalanan pulang dari Makassar. Aroma menyengat dari kendang kambing, sesekali terbawa angin dan menampar-nampar penciuman kami.

Adzan Maghrib berkumandang, kami pamit untuk ke masjid dengan harapan di sana kami bisa meluruskan punggung sejenak setelah seharian bersafar dari Makassar.

Ternyata, ujian bagi kami masih berlanjut. Masjid yang kami kunjungi ternyata dalam proses renovasi dan tidak memiliki WC, juga air. Bahkan niat kami untuk mencari tumpangan dan menginap di Turatea harus kami batalkan karena kondisi desa yang sangat kekurangan air.

Kedatangan kami memang bukan hanya bertemu dan menyerahkan sedikit tanda mata, melainkan juga ingin mengabadikan kisah hidup Daeng Bella sebagai penjual tala, dalam bentuk video dokumenter.

Menjelang isya, Daeng Bella sudah tiba dari Makassar. Kami bergegas meninggalkan masjid menuju rumahnya, untuk menemuinya.

Bersama suguhan teh manis hangat, kami menyampaikan maksud dan diiyakan oleh Daeng Bella dengan anggukan dan senyum. Kami pamit pulang setelah memastikan bahwa besok kami akan datang lagi untuk proses syuting.

Kami menjatuhkan pilihan tempat nginap di rumah sepupu saya di Jeneponto. Kami menikmati makan malam yang benar-benar nikmat di rumah ini, meski harus mengalihkan lagi perjalanan ke rumah keluarga yang lain untuk tidur karena rumah sepupu tak bisa menampung kami berlima.

Besoknya, kami kembali bertemu dengan Daeng Bella. Masih sangat pagi. Matahari bahkan belum muncul, kami sudah memulai action bersama Daeng Bella. Mulai dari Daeng Bella mencari buah tala yang siap panen, memanjatnya, mengupas, mengemasnya, hingga memikulnya menuju ke pinggir jalan untuk menunggu angkot.

Sebuah proses yang biasa bagi Daeng Bella. Tapi di mata kami, itu adalah pekerjaan yang sangat berat bahkan mempertaruhkan nyawa. Namun, demi dapur keluarga yang harus tetap mengepul, demi mencukupkan biaya hidup, semua itu harus dijalani Daeng Bella sebagai seorang nakhoda di rumah tangganya.

Selain buah tala, Daeng Bella juga menjajakan kripik pisang sebagai penghasilan tambahan. Kripik dipikul bersama buah tala, sambil kakinya yang menua namun terlihat tetap kokoh itu menapaki jalan-jalan Kota Makassar yang penuh dengan polusi dan riuh suara kendaraan.

Hal yang tak pernah diduga kembali menyapa kami saat syuting. Tiba-tiba, Pak Mursidi, target pertama kami datang menemui kami. Sejenak tim kami saling tatap, entah harus berkalimat apa. Ada perasaan bersalah, juga kasihan. Hadiah yang kami niatkan untuk Pak Mursidi, telah kami alihkan niatnya ke Daeng Bella.

Pak Mursidi datang menemui kami karena mendengar kabar kalau kami datang untuk mencarinya. Tak ada jalan lain, hadiah berupa bingkisan dan uang tunai harus kami bagi untuk mereka berdua.

Sepertinya Allah ingin menunjukkan pada kami bahwa Ayah Inspirasi bukan hanya satu, melainkan dua, tiga, bahkan sangat banyak. Ya, ternyata Ayah Inspirasi versi BPKK DPW PKS Sulsel jatuh ke tangan dua ayah penjual tala.

Keduanya tersenyum pada kami, juga keluarga mereka. Tersenyum karena kehadiran kami, tersenyum karena hadiah kami, dan kami ikut tersenyum juga ketika mereka mengiyakan untuk bergabung sebagai keluarga besar PKS. Riswan, anak lelaki Daeng Bella siap membanti PKS, sedangkan Rika anak Pak Mursidi yang masih kuliah, siap bergabung di Rumah Keluarga Indonesia.

Kami meninggalkan Turatea dengan hati haru. Perjuangan penjual tala yang sering kami lihat berjalan kaki menjajakan jualannya di Makassar, ternyata masih sangat kecil dibandingkan perjuangannya saat memanjat pohon tala dengan menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

“Ayahku sangat pendiam. Terlebih, sangat ulet. Dia pekerja keras. Ayah bahkan yang membiayai pernikahan saya, dan itu saya tahu biayanya sangatlah mahal,” ungkap Riswan ketika melepas kepergian kami.

Sebuah kisah perjalanan yang sulit untuk dilupakan. Bertabur hikmah dan inspirasi meski sangat melelahkan.

Inspirasi tak harus dari orang-orang sukses yang berdasi, tetapi juga ada pada sosok manapun yang tak pernah menyerah pada hidup. Seperti yang ada pada Daeng Bella dan Pak Mursidi, Ayah Inspirasi Versi BPKK DPW PKS Sulsel.***

 Komentar

 Terbaru

DAERAH29 November 2021 19:52
Pemkab Gowa Siapkan Lahan untuk Tanaman Bahan Baku Obat Tradisional
GOWA, DATAKITA.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa melalui Perusahaan Daerah Holding Company Gowa Mandiri menjalin kerjasama dengan PT Royal...
MAKASSAR29 November 2021 18:18
Direvitalisasi Tahun Depan, Begini Wajah Karebosi Nantinya
MAKASSAR, DATAKITA.CO – Lapangan Karebosi bakal mengalami revitalisasi. Pemerintah Kota Makassar menyiapkan anggaran sekira Rp18 miliar. Anggaran re...
MAKASSAR29 November 2021 15:59
Polda Sulsel Gelar Operasi Lilin Jelang Nataru, Turunkan 4.550 Personel
MAKASSAR, DATAKITA.CO – Polda Sulsel akan menggelar Operasi Lilin mulai tanggal 22 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. Operasi ini dilaksanakan unt...
BERITA29 November 2021 15:01
Bahas Pelayanan Kesehatan, Apiaty: Masyarakat Wajib Mendapatkan Layanan Yang Baik
MAKASSAR, DATAKITA.CO – Anggota DPRD Kota Makassar, Apiaty K Amin Syam menggelar Sosialisasi Peraturan (Perda) Nomor 7 Tahun 2009 tentang Pelaya...