MAKASSAR, DATAKITA.CO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar telah memetakan daerah-darah yang rawan terdampak banjir di Kota Makassar. Ada empat kecamatan yakni Kecamatan Manggala, Tamalanrea, Biringkanaya, dan Panakkukang.

Pemetaan itu dilakukan karena saat ini Kota Makassar telah memasuki musim penghujan. Di mana, berdasarkan BMKG Wilayah IV Makassar telah mengeluarkan surat peringatan dini cuaca selama sepekan ke depannya yang diprediksi terjadi curah hujan dengan intesitas sedang hingga lebat.
Curah hujan yang tinggi tersebut berpotensi menyebabkan terjadi bencana hidrometeorologi seperti potensi longsor, banjir bandang dan genangan pada daratan rendah di kawasan perumahan maupun lahan pertanian/perkebunan yang juga berpotensi menyebabkan kerusakan.
Baca Juga :
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Hendra Hakamuddin mengatakan di musim hujan seperti ini pihaknya sangat berfokus pada ke empat kecamatan tersebut.
Sebab, menurut Hendra, berdasarkan pengalaman menunjukkan kalau hujan intensitas tinggi dalam rentang waktu yang lama dapat menyebabkan banjir.
“Kecamatan-kecamatan ini yang kita terus pantau jika terjadi hujan intensitas tinggi,” ucap Hendra, Selasa (5/12).
Meski begitu, Hendra mengatakan hingga saat ini hujan yang terjadi beberapa hari terakhir belum menimbulkan banjir di ke empat kecamatan tersebut. Tetapi, pihaknya akan terus melakukan pemantauan.
“Kami khawatirkan ketika terjadi 3 hari hujan berturut-turut dengan intensitas cukup sedang. Tapi terus menerus itu sangat mempengaruhi kondisi di 4 kecamatan ini,” terang Hendra.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan berpatokan pada ambang batas bibir sungai. Di mana, jika melewati ambang batas bibir sungai maka di beberapa titik di Kota Makassar termasuk di empat kecamatan tersebut kemungkinan besar akan terjadi banjir.
“Itu ada ukuran buat kami ketika itu melewati ambang batas bibir sungai itu kemungkinan besar sudah terendam atau bisa dikatakan banjir,” jelas Hendra.
Maka dari itu sebagai upaya penanggulangan, Hendra menyebut pihaknya juga bersiap dengan langkah-langkah antisipatif, termasuk mendirikan dapur umum dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk kelompok rentan.
“Antisipasi kami adalah mempersiapkan sumber daya, bukan cuma personel tapi juga peralatan. Jika terjadi banjir prioritas pertama yang dilakukan sesuai dengan SOP kami adalah melakukan pencarian, pertolongan dan evakuasi (PPE),” ucap Hendra.
Hendra menekankan kolaborasi lintas instansi menjadi kunci dalam mengatasi dampak banjir di wilayah tersebut.
“Kalau cukup signifikan dampaknya, tentu kami koordinasi dengan instansi lain seperti Basarnas, TNI-Polri,” tambahnya.








Komentar