MAKASSAR, DATAKITA.CO – Setelah dilaunching, KM Umsini milik PT Pelni mulai beroperasi untuk isolasi mandiri (isoman) warga Kota Makassar yang positif COVID-19. Sudah 76 warga yang mulai mengikuti program isoman apung ini, termasuk bayi hingga balita.

Para pasien itu pada Senin (2/8/2021) dibawa ke Dermaga Peti Kemas Soekarno-Hatta, Kota Makassar, tempat KM Umsini bersandar. Pasien datang dengan menumpang mobil ambulans dari puskesmas tempat mereka tinggal.
Sebelum naik ke atas kapal, tampak para pasien tersebut lebih dulu mengikuti proses screening di area dermaga.
Baca Juga :
Selanjutnya, sekitar pukul 17.00 Wita, para pasien mulai naik ke atas kapal didampingi para tenaga kesehatan (nakes) ber-APD lengkap.
Terlihat para pasien tersebut beragam, dari orang dewasa, bayi, hingga ada pula balita. Setelah para pasien naik semua, KM Umsini mulai berlayar untuk lepas jangkar di perairan dekat Pulau Lae-lae yang jaraknya tak jauh dari Dermaga Peti Kemas, Makassar.
Evakuasi pasien ke KM Umsini ini turut disaksikan langsung oleh Walikota Makassar Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, Direktur Usaha Angkutan Perusahaan Penumpang PT Pelni OM Sodikin, Kapolrestabes Makassar Kombes Witnu Urip Laksana, Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP M Kadarislam.
“Kalau tadi di Kapal, sudah tenang orang di Kapal ada 68 orang, terus 8 orang sedang menuju ke kapal pakai perahu kecil, jadi total ada sekitar 76 orang sekarang,” kata Danny.
Menurutnya, jumlah tersebut bakal terus bertambah. Sebab, ada 110 pasien yang terdaftar hari ini dari 47 puskesmas di Makassar, yang mana ada sebagian pasien yang mengalami keterlambatan.
“Tadi saya telepon di Dermaga, ada lagi yang baru tiba. Nggak papa, memang naik terus (angkanya),” tuturnya.
Danny juga menyinggung adanya pasien isoman yang masih bayi dan balita. Dia pun menyebut hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya klaster keluarga.
“Bahwa kita lihat ada anak bayi berarti klaster keluarga begitu kuat,” ungkap Danny.
Namun Danny memastikan, jika pasien yang memiliki bayi dan balita atau juga merupakan klaster keluarga, pihaknya akan menyediakan kamar khusus di atas kapal.
“Kalau bayi dan keluarga ada kamar. Ini menariknya, kalau perempuan ada di kamar, kalau laki-laki sendiri (tanpa keluarga) itu ada di kapsul,” katanya.
“Jadi sudah diatur, kalau dia bersaudara perempuan, atau berkeluarga langsung kita kasih masuk di kamar,” imbuhnya.
Danny berharap isolasi tersebut maksimal. Sebab, isolasi ini menargetkan mengurai klaster keluarga di masyarakat. Tim Detektor disebutnya tengah bekerja di lapangan.
“Ini baru awal saya berharap itu betul-betul maksimal, kalau dia maksimal berarti makin banyak orang dipisahkan antara yang sehat dan yang sakit di rumahnya,” ujar Danny.
Menurut Danny, isolasi pasien ini akan berlangsung 7 hingga 10 hari ke depan. Warga juga akan dilengkapi segala kebutuhan nutrisi selama di atas kapal.
“Kita menargetkan 7-10 hari, mudah-mudahan begitu kapal sandar untuk isi bahan bakar dan air di situ juga pergantian alumni, alumni baru naik, alumni lama sudah sembuh turun,” jelasnya.








Komentar