Jelang Ramadhan, Disdag Sulsel Optimistis Ketersediaan Beras Aman

MAKASSAR, DATAKITA.CO – Dinas Perdagangan (Disdag) Sulsel fokus menjaga kelancaran distribusi jelang Ramadhan. Terlebih, permintaan terhadap kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) meningkat. Perlu ada pengawasan ekstra pemerintah.

Kepala Disdag Sulsel, Andi Arwin Azis mengatakan, kondisi cuaca menjadi salah satu penyebab masalah distribusi, termasuk sembako. Imbasnya, permintaan akan meningkat apalagi menjelang hari besar keagamaan.

“Tentu semakin meningkat permintaan harus bisa dipastikan stok lebih banyak. Yang paling penting adalah distribusinya bisa lancar apalagi ini faktor cuaca ya diharapkan tidak berpengaruh signifikan,” tukas Andi Arwin, Selasa (21/2).

Salah satu komoditi paling penting, kata dia, yakni beras. Meski begitu, pihaknya optimistis ketersediaan beras aman. Apalagi, panen raya akan tiba dan jelang Ramadhan.

“Kita harap bisa panen beras bulan depan. Kita harus pastikan harga di pasaran tidak melonjak,” ujarnya.

Arwin Azis menuturkan, pihaknya akan berkolaborasi dengan semua stakeholder terkait dalam melakukan intervensi kenaikan harga dan ketersediaan bahan pokok menuju Ramadhan.

“Intervensi pemprov pasti ada untuk mengendalikan harga termasuk sebenarnya dengan memastikan pasokan itu besar. Intinya pemerintah harus lakukan intervensi apakah itu melakukan kolaborasi dengan Bulog dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Perum Bulog Kanwil Sulselbar Bakhtiar, menyampaikan, kenaikan harga bahan pokok terutama beras itu merupakan kondisi yang berulang setiap tahun.

Kata dia, persiapan antisipasi akan hal itu telah dilakukan oleh pihaknya dengan koordinasi dengan stake holder terkait.

“Itu kan kondisi yang berulang setiap tahun, itu sudah bisa kita antispasi, dengan cermat dan semua stake holder terlibat,” ujar Bakhtiar.

Ia melanjutkan, langkah antisipasi itu telah dilakukan bersama dengan TPID masing-masing wilayah kabupaten maupun kota dengan terselenggaranya pasar murah di titik yang ditentukan.

“Terkait antisipasinya, sekarang kan sudah mulai dirancang, jadi membuat titik-titik pasar murah, kemudian kabupaten dan kota sudah membuat itu, tinggal nanti kita bersinergi, artinya insya Allah dengan komunikasi, kegiatan dilakukan secara terkoordinasi itu akan teratasi,” terangnya.

Dia melanjutkan, persiapan antisipasi kenaikan harga itu dilakukan cukup telaten dengan rapat yang dilakukan secara mingguan. Ia membeberkan, pasti akan ada kenaikan dengan meningkatkan jumlah permintaan apa lagi mendekati hari besar keagamaan.

“Untuk harga beras sendiri di pasaran untuk level medium itu berkisar kurang lebih hanya Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Kemudian memang ada kenaikan sekitar Rp 1400 tetapi Bulog telah lakukan operasi pasar, dimana maksimal itu sesuai HET,” ucapnya.

“Sulsel sendiri sebagai wilayah dengan harga beras terendah di seluruh Indonesia, karena sebagai wilayah surplus beras. Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir,” tambahnya.

Baca Juga