MAKASSAR, DATAKITA.CO – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar Syamsu Rizal Mi mengatakan bahwa bencana banjir di Kota Makassar merupakan tanggung bersama. Diperlukan koordinasi dan sinergitas multipihak dalam pencegahan penanggulangannya.

“Bencana banjir di Makassar merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu diperlukan koordinasi dan sinergitas multipihak dalam pencegahan, siap siaga dan penanggulangan bencana banjir di Makassar,” ucap Deng Ical, sapaan Syamsu Rizal, saat membuka kegiatan Table Top Exercise (Gladi Ruang) penanganan darurat banjir Kota Makassar, di Arthama Hotel, Selasa (7/12/2021).
Kegiatan Table Top Exercise (Gladi Ruang) penanganan darurat banjir Kota Makassar ini digelar oleh PMI Kota Makassar bekerjasama dengan Pemerintah Kota Makassar dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar.
Baca Juga :
Kegiatan ini dibuka oleh Ketua PMI Makassar dan menghadirkan setiap perwakilan dari berbagi instansi serta organisasi yang terkait dalam penanganan darurat banjir di Makassar.
Deng Ical mengatakan kegiatan gladi ruang ini bertujuan untuk bagaimana kita bisa memahami kondisi dan peran masing masing pihak dalam penanganan banjir di Kota Makassar.
Menurutnya, pada tahun 2016 itu khusus dibidang kesehatan dilakukan survei dan simulasi oleh Pemerintah Kota Makassar bersama PMI Makassar yang dibantu oleh Singapore Health untuk melakukan assesment, dan hasil ahkirnya itu dalam konteks bencana non alam dan medis itu kita punya kapasitas sampai 72 persen, tetapi dari hasil simulasi itu ternyata efektifnya cuman 39 persen.
“Jadi hampir setengahnya dari 72 persen yang ideal, tetapi yang bisa diaktivikasi pada saat bencana itu hanya 39 persen. Apa masalahnya?, ternyata masalah utamanya itu adalah rencana kontinjensi banjir belum ada dan pola kordinasi yang tidak merata,” katanya.
“Tapi saat ini Pemerintah Kota Makassar sudah memiliki rencana kontijensi banjir maka dari itu masalah ini tidak boleh lagi terjadi,” lanjutnya.
Oleh karena itu, diharapakan dengan kapasitas yang dimiliki bisa terpasang dan diaktivasi dengan baik, sehingga kita bisa meminimalisir dampak banjir yang timbul.
“Masalahnya adalah belumpi kita aktivasi ini dihantam duluan meki banjir. Karena kita mendapat informasi puncak hujan itu ada di tanggal 20 berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait,” urainya.
Padahal rencananya dilakukan simulasi lapangan, tapi karena keburu hujan deras beberapa hari melanda Kota Makassar mengakibatkan banjir.
“Tapi kami bersama BPBD sudah turun untuk mengidentifikasi titik banjir di Makassar, melakukan assesment dan membantu mengevakuasi warga yang terkena dampak banjir,” tuturnya.








Komentar